Skip to main content

BEM STIH ZAHA terlibat kegiatan Save Gili Ketapang Probolinggo, bersama Komunitas Pesantren

SUMBERASIH – Dalam rangka memperkuat ikatan silaturrohim antara ulama, Pemerintah dengan masyarakat, serta membantu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan darat, menjaga ekologi laut dan kesehatan masyarakatnya. Maka, Komunitas pesantren yang bekerjasama dengan Bank Indonesia Wilayah IV Jatim, Lantamal V Surabaya dan Pemerintah Kabupaten Probolinggo mengadakan kegiatan “Save Gili; Kegiatan sosial (pengobatan Massal), Konservasi dan Edukasi Lingkungan”, Sabtu 28/9/2018 kemarin.

SUMBER: Jurnalis Kampus saat wawancara dengan Gus Haris

Gus dr. Muhammad Haris Damanhuri selaku penanggung jawab kegiatan menuturkan bahwa kegiatan tersebut merupakan lanjutan dari Genggong Go Green, dan ini merupakan bentuk rasa prihatin kepada masyarakat yang kurang sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Apalagi Pulau Gili merupakan satu-satunya pulau yang berada di Kabupaten Probolinggo, yang menyimpan ratusan keindahan bawah laut. “ Keberadaan sampah yang ada di darat maupun di Pantai Pulau Gili ini sangat banyak. Apalagi sampah kiriman dari luar yang kemudian bersandar di Pulau Gili. Masyarakat kurang sadar akan menjaga sampah, terutama sampah plastik dan sampah anorganik yang tidak bisa diserap oleh bumi. Oleh karena itu akhirnya kita mencoba melakukan kegiatan ini dan bekerja sama dengan Lantamal V Surabaya. Apalagi Komandan Edwin ingin ikut serta karena disini masih wilayah mereka, tuturnya saat diwawancarai oleh jurnalis kampus LPM Hukum.

SEMANGAT: BEM STIH ZAHA saat mengambil sampah yang berserakan di pantai

Lanjut Gus Haris (sapaan akrabnya-red), melalui kegiatan #Save Gili Ketapang ini, beliau ingin mendedikasikan kepada warga terkait pentingnya pengolahan sampah terutama sampah plastik. Tidak hanya mengajak para sahabat laut, beliau juga ingin mengajak para Kyai dan Habaib untuk turut andil dalam kegiatan ini. Apalagi seorang mahasiswa, beliau mengharapkan mahasiswa dapat memberikan edukasi pentingnya menjaga ekosistem dan lingkungan,“ Apalagi di Pulau Gili tidak ada sarana pembuangan sampah, jadi mau dibuang kemana? Diangkut menggunakan kapal juga susah. Jadi kami masih mencari solusi misal dengan membuat mesin penghancur dan pengolah sampah plastik. Dan saya harap mahasiswa bisa memberikan edukasi kepada masyarakat. Jiwa-jiwa muda seperti kalian yang harus berperan didepan untuk kemaslahatan ummat. Agar masyarakat bisa melakukan penjagaan dengan baik terhadap Pulau Gili. Karena kita bukan diwarisi oleh nenek moyang. Melainkan kita meminjam dari anak cucu kita. Maka dari itu kita harus mengembalikan lingkunagn dengan baik”, harap Putra Nyai. Hj. Diana Susilowati tersebut.

SINERGI: Jurnalis kampus saat mewawancarai Laksamana Pertama TNI

Senada dengan Gus Haris, Laksamana Pertama TNI Edwin, SH mengatakan bahwa melihat dari potensi Pulau Gili yang sangat besar, kita wajib menjaga lingkungan yang ada. Karena apabila sampah menempel pada terumbu karang yang berada di Pulau Gili, maka terumbu karang akan mati dan ekosistem akan terganggu. “ 100% profesi disini adalah nelayan, sehingga terumbu karang harus dijaga demi kesejahteraan masyarakat. Apalagi di dalam ajaran islam telah dijelaskan bahwa kebersihan merupakan sebagian dari iman. Dan saya sangat mengapresiasi kegiatan ini, karena semua komponen masyarakat terlibat. Hal ini menunjukkan bahwa langkah kita tidak boleh terhenti sampai disini, “ ujar Komandan kelahiran 2 Agustus 1969 kepada jurnalis kampus.

Kegiatan yang bertema “Municipal Solid Waste Management” dilaksanakan di Pulau Gili Ketapang, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo melibatkan beberapa pengasuh Pesantren, Bank Indonesia Wilayah IV Jatim, Lantamal V Surabaya dan Pemerintah Kabupaten Probolinggo, BEM Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Zainul Hasan, beserta masyarakat setempat. (Reporter: Aprilia Wulandari dan Nurhidayati)

Tinggalkan Balasan